Ajaran Yesus yang unik dan 'nyleneh' di tengah-tengah bangsa Yahudi saat itu, membuat Ia begitu menjadi kontroversial saat itu. Tak sedikit pula orang-orang dengan tradisi Yahudi menentangnya dan mencemo'oh ajarannya. Banyak pula orang yang tertarik dengan ajaran Yesus dan membentuk suatu paguyuban yang disebut Kristen.
Perjanjian Baru menulis bahwa Yesus memulai pelayananNya pada usia 30 tahun (Lukas 3:23). Sedangkan catatan terakhir tentang kehidupan Yesus sebelum Ia memulai pelayananNya adalah pada saat Yesus berusia 12 tahun, yakni ketika orangtuaNya kehilangan Dia pada saat perayaan Paskah dan menemukanNya sedang berdiskusi dengan para alim ulama di Bait Elohim. Jadi memang ada rentang waktu 18 tahun dalam masa hidup Yesus yang tidak diceritakan dalam Perjanjian Baru.
Apa yang dilakukan Yesus selama tahun-tahun tersebut ? Benarkah Ia melakukan semacam meditasi dan mempelajari berbagai macam ilmu spiritualitas dari dunia Timur ?
Temuan manuskrip Himis pertama kali dipublikasikan oleh Nicholas Notovitch, seorang koresponden kelahiran Russia, dalam sebuah buku berbahasa Prancis La vie inconnue de pada tahun 1894.[1] Notovitch mengisahkan penemuannya ini sebagai berikut. Pada tahun 1887, ketika tengah melakukan perjalanan menuju India, ia mengalami patah kaki dan mendapat perawatan di sebuah biara di Leh, ibukota Ladakh (sebuah daerah di utara India - sekarang Kashmir).
Disanalah ia pertama kali mendengar dari seorang lama (semacam biarawan) Tibet tentang seorang suci bernama Issa. Notovitch menjadi tertarik akan hal ini. Ia minta diantarkan ke biara Himis (25 mil dari Leh) yang dikatakan menyimpan manuskrip-manuskrip kuno yang mengisahkan Issa. Di biara Himis inilah Notovitch kemudian menjumpai manuskrip yan dimaksud. Kepala lama disana menceritakan pula bahwa manuskrip yang mereka miliki merupakan terjemahan dari bahasa Pali dan aslinya konon ada tersimpan dalam perpustakaan sebuah biara di Lhasa, Tibet.
Notovitch selanjutnya membujuk sang lama untuk membacakan manuskrip itu kepadanya, dan meminta seorang penerjemah untuk menerjemahkannya dari bahasa Tibet. Menurut Notovitch, isi dari manuskrip tersebut "tidak saling menyambung dan tercampur-baur dengan kisah-kisah lain yang tidak berhubungan sama sekali," dan ia harus menyusun "semua fragmen yang menyangkut kisah kehidupan Issa dalam susunan yang kronologis dan dengan susah payah membentuk kesatuan karakter, yang mana tidak ada pada fragmen-fragmen tersebut".[2] Ia tidak tidur selama beberapa hari supaya ia bisa membentuk dan menyusun apa yang telah ia dengar.
Dari manuskrip itu, Notovitch belajar bahwa "Yesus telah berkelana ke India dan ke Tibet sebagai seorang anak muda sebelum ia memulai pekerjaannya di Palestina."[3] Awal perjalanan Yesus dikisahkan dalam manuskrip tersebut sebagai berikut :
Ketika Issa telah mencapai usia 13 tahun, usia ketika seorang Israel harus mengambil seorang istri, rumah dimana orangtuanya tinggal mulai menjadi tempat pertemuan orang-orang kaya dan para bangsawan, yang menginginkan Issa muda menjadi menantu mereka, yang telah terkenal karena khotbah-khotbahnya yang menyejukkan. Maka Issa meninggalkan rumah orangtuanya dengan diam-diam, pergi dari Yerusalem, dan bersama-sama dengan para saudagar berangkat menuju negeri Sind, dengan tujuan menyempurnakan dirinya dalam Firman Tuhan dan mendalami ajaran-ajaran dari para Buddha.[4]
Masih menurut Notovitch, manuskrip tersebut menjelaskan pula bagaimana, setelah secara singkat mengunjungi para penganut agama Jain, Issa muda belajar selama enam tahun dengan para penganut Brahma di Juggernaut, Rajagriha, Benares, dan kota-kota suci India lainnya. Pendeta-pendeta Brahma "mengajarnya cara membaca dan memahami kitab Veda, cara penyembuhan dengan doa, cara menyampaikan dan menerangkan ajaran-ajaran suci kepada orang banyak, cara mengusir roh-roh jahat dari tubuh manusia serta mengembalikan kewarasan mereka."[5]
Selama disana, ceritanya terus berlanjut, Issa mulai mengajar kitab suci kepada orang banyak di India – termasuk para penyandang kasta rendah. Kaum Brahma dan Kshatriyas (kasta tinggi) menentang dia karena hal ini, dan memberitahunya bahwa kaum Sudra (kasta rendah) dilarang membaca atau bahkan melihat isi kitab Veda. Issa sangat tidak setuju dengan mereka akan hal ini.
Karena pengajaran Issa yang kontroversial itu, sebuah rencana pembunuhan disiapkan untuknya. Tetapi kaum Sudra terlebih dahulu memperingatkannya dan lalu Issa meninggalkan Juggernaut dan menetap di Gautamides (kota kelahiran Buddha Sakyamuni) dimana ia mempelajari kitab suci Sutra. "Enam tahun setelah itu, Issa, yang telah dipilih Sang Buddha untuk menyebarkan ajaran sucinya, telah menjadi seorang yang sangat menguasai kitab-kitab suci."
Kemudian ia meninggalkan Nepal dan pengunungan Himalaya, turun kembali ke lembah Rajputana, dan pergi ke arah barat, mengajari orang-orang banyak tentang pencapaian kesempurnaan manusia."[6] Setelah ini, dikisahkan Issa mengunjungi Persia dimana ia mengajar di hadapan para penganut Zoroaster. Lalu pada usia 29 tahun, ia kembali ke Israel dan mulai mengajar semua yang telah ia pelajari dengan versi sendiri sesuai dengan kondisi dan budaya yang berlaku.
Pada abad kesembilanbelas (jadi hampir bersamaan dengan Notovitch) terbit sebuah "injil" yang dinamakan The Aquarian Gospel of The Christ yang ditulis oleh seorang pendeta militer yang pernah bertugas dalam Civil War, Levi Dowling (1844-1911). Judul halaman "injil" ini menyandang kalimat demikian : "Disalin dari Kitab Kenangan Ilahi yang dikenal sebagai Catatan Akasha".
Disini, tidak seperti halnya Notovitch yang menyajikan kesimpulan berdasarkan manuskrip-manuskrip kuno, Dowling mengklaim bahwa bukunya berdasarkan suatu "inspirasi" atau "penerangan" yang di kalangan kaum New Age dikenal dengan sebutan Catatan Akasha.[16] Injil yang pertama kali diterbitkan tahun 1911 ini lebih banyak berfokus kepada pendidikan dan perjalanan Yesus. Setelah belajar dari Rabbi Hillel, Yesus menurutnya menghabiskan bertahun-tahun masa mudanya dengan belajar bersama-sama para Brahma dan kaum Buddhis.
Yesus dikatakan menjadi tertarik untuk belajar di negeri Timur setelah Yusuf, ayahnya, menjamu Pangeran Ravanna dari India. Selama kunjungannya, Ravanna sangat terkesan dengan Yesus kecil dan ia memohon kepada Yusuf supaya ia boleh menjadi pelindung anak kecil itu, dan supaya ia boleh membawanya ke negeri Timur dimana Yesus bisa belajar banyak ilmu dari para Brahma. Sebaliknya Yesus kecil pun menunjukkan ketertarikkannya, dan setelah berhari-hari akhirnya orangtuanya memberi izin. Maka begitulah "Yesus diterima sebagai seorang murid di sebuah kuil di Jagannath, dan disitulah ia belajar kitab Veda dan hukum Mani."[17]
Yesus kemudian mengunjungi kota Benares di tepi sungai Gangga. Selama disana, "Yesus berusaha mempelajari seni penyembuhan Hindu, dan menjadi murid Udraka, tabib Hindu yang paling ternama".[18] Dan Yesus "terus bersama Udraka sampai ia telah menguasai semua ilmu darinya yakni seni penyembuhan Hindu."[19]
Levi melanjutkan kisah Yesus dengan mengisahkan perjalananNya ke Tibet dimana Yesus dikatakan bertemu dengan Meng-ste, orang bijak terbesar dari negeri Timur." Dan Yesus boleh mempergunakan seluruh manuskrip-manuskrip suci dan, dengan bantuan Meng-ste, membacanya semua."[20]
Yesus akhirnya tiba di Mesir, dan - mungkin ini adalah puncak dari masa-masa lowong itu - ia bergabung dengan "Persaudaraan Suci" di Heliopolis. Selama disana, ia berhasil melalui tujuh tingkatan inisiasi - Ketulusan, Keadilan, Iman, Kecintaan Sesama Manusia, Kepahlawanan, Kasih Ilahi, dan KRISTUS. Setelah ditahbiskan menjadi Kristus barulah Yesus kembali ke Israel dan melayani disana selama 3 tahun sebelum akhirnya menjalani penyaliban.
Selain Dowling, masih ada lagi seseorang yang mengaku mampu membaca Catatan Akasha. Edgar Cayce mengaku telah membaca 16000 catatan sepanjang hidupnya dimana 5000 di antaranya berbicara tentang agama. Dari catatan Akasha inilah Cayce mengisahkan masa-masa lowong kehidupan Yesus.
Manusia yang kita kenal sebagai Yesus, kata Cayce, mempunyai 29 inkarnasi sebelumnya. "Ini termasuk seorang pemuja matahari, pengarang Kitab Kematian (Mesir Kuno), dan Hermes. Yesus juga adalah Zend (ayah Zoroaster), Amilius (seorang penduduk Atlantis), dan figur-figur sejarah masa lampau lainnya."[21] Inkarnasi lain termasuk adalah Adam, Yusuf, Yosua, Henokh, dan Melkisedek.
Jiwa ini belum menjadi "Kristus" hingga inkarnasi ketiga-belasnya sebagai Yesus dari Nazaret. Alasan mengapa Yesus mesti melalui begitu banyak inkarnasi adalah bahwa ia – sebagaimana makhluk manusia lainnya mempunyai "hutang karma" (dosa) yang harus dibayar.
Lanjutnya, Yesus mendapat pendidikan yang luas. Sebelum usia 12 tahun, ia telah belajar seluruh hukum Yahudi. "Mulai usia 12 hingga 15 atau 16 tahun, ia belajar ilmu kenabian dari Judy, seorang guru Essene di rumah sang guru di Karmel. Kemudian Yesus memulai pendidikannya di luar negeri, mula-mula di Mesir untuk beberapa waktu, lalu ke India selama tiga tahun, dan terakhir ke Persia. Dari Persia ia dipanggil pulang ke Yudea karena Yusuf wafat, selanjutnya pergi ke Mesir untuk menyelesaikan persiapannya sebagai seorang guru."[22]
Selama pendidikannya itu, Yesus belajar dari banyak guru di antaranya Kahjian di India, Junner di Persia, dan Zar di Mesir. Ia juga mempelajari ilmu penyembuhan, pengontrolan cuaca, telepati, perbintangan, dan ilmu-ilmu cenayang lainnya. Ketika pendidikannya selesai, ia kembali ke negeri asalnya dimana ia melakukan "mukjizat-mukjizat" dan mengajar orang banyak selama tiga tahun.
Pendapat saya
Yesus merupakan sosok yang sangat menarik, dikagumi, dan sangat kontroversial. Buah pemikiran dan wawasan-wawasannyapun sangat luas dan universal. Yesus tidak mungkin bisa menjadi demikian jika Ia hanya menetap di Nazaret dan terus menjalankan tradisi Yahudi. Perlu anda ketahui bahwa saat itu, tanah tempat kelahiran Yesus merupakan daerah jajahan bangsa Romawi. Sebagaimana daerah jajahan tentu saja daerah tersebut pasti merupakan daerah yang penduduk-penduduknya miskin, terbelakang dan kolot. Jikapun ada yang kaya itupun hanya sebagian orang dan hanya pihak-pihak yang memiliki akses terhadap kekaisaran Romawi dan raja lokal (Herodes). Sedangkan tempat-tempat Yesus berkelana menurut cerita di atas seperti Mesir, Tibet, India merupakan daerah-daerah merdeka yang saat itu maju dan memiliki kebudayaan-kebudayaan sangat tinggi di berbagai bidang, seperti iptek, arsitektur bangunan, tata kehidupan masyarakat, sastra, spiritual, dan lain sebagainya. Sedangkan daerah kelahiran Yesus merupakan daerah terjajah, tertinggal, miskin, kolot. Boro-boro mau membangun kebudayaan, mau makanpun sulit dan bencana kelaparan sudah menjadi hal yang biasa di tempat kelahiran Yesus.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar